PT Kumala Kencana Kreasindo

Cara Menentukan Jumlah Kamera CCTV untuk Gedung Komersial

Menentukan jumlah kamera CCTV tidak cukup dengan membagi luas gedung berdasarkan rasio tertentu. Gedung seluas 5.000 m² bisa membutuhkan 20 kamera, tetapi gedung lain dengan luas yang sama mungkin memerlukan dua kali lipat karena memiliki lebih banyak pintu, koridor bercabang, area tenant, ruang terbatas, loading dock, dan titik berisiko tinggi.

Cara yang lebih tepat adalah menghitung jumlah pandangan kamera atau camera view yang dibutuhkan. Setiap pandangan harus memiliki tujuan yang jelas, seperti memantau pergerakan orang, mengenali wajah di pintu masuk, membaca pelat kendaraan, mengawasi transaksi, atau merekam aktivitas di ruang penting.

Dengan pendekatan ini, jumlah kamera dapat dihitung berdasarkan kebutuhan operasional dan kondisi gedung, bukan sekadar perkiraan umum.

Jangan Menentukan Jumlah Kamera dari Luas Gedung Saja

Luas bangunan tetap berguna sebagai informasi awal, tetapi bukan faktor utama yang menentukan jumlah kamera.

Ruang kantor terbuka biasanya lebih mudah diawasi daripada gedung dengan banyak ruangan tertutup. Area parkir tanpa penghalang juga membutuhkan pendekatan yang berbeda dari gudang dengan rak tinggi yang menutupi pandangan kamera.

Beberapa faktor yang lebih menentukan antara lain:

  • jumlah pintu masuk dan keluar;
  • jumlah lantai, koridor, tangga, dan lift;
  • bentuk denah serta keberadaan tikungan atau persimpangan;
  • fungsi dan tingkat risiko setiap area;
  • jarak kamera dari objek yang ingin dilihat;
  • keberadaan kolom, rak, kendaraan, partisi, dan penghalang lain;
  • kondisi pencahayaan pada siang dan malam hari;
  • tingkat detail rekaman yang dibutuhkan.

Karena itu, aturan seperti “satu kamera untuk setiap 100 m²” hanya dapat digunakan sebagai perkiraan awal. Angka tersebut belum cukup untuk menentukan desain CCTV yang benar-benar dapat digunakan saat terjadi insiden.

Tentukan Tujuan Setiap Kamera

Sebelum menghitung jumlah perangkat, tentukan terlebih dahulu apa yang harus terlihat pada setiap lokasi.

Kamera yang hanya digunakan untuk mengetahui keberadaan seseorang memiliki kebutuhan berbeda dari kamera yang harus menangkap detail wajah atau pelat kendaraan. Kamera dengan sudut lebar mungkin dapat memperlihatkan seluruh lobi, tetapi belum tentu mampu menampilkan wajah dengan jelas pada jarak terjauh.

IEC 62676-4:2025 membagi kebutuhan visual sistem pengawasan video ke dalam beberapa tingkat berdasarkan kepadatan piksel.

Tingkat Kebutuhan VisualKepadatan PikselPenggunaan Umum
Overview20 px/mMelihat kondisi umum suatu area
Outline40 px/mMelihat bentuk dan arah pergerakan objek
Discern80 px/mMembedakan aktivitas atau karakteristik umum
Perceive125 px/mMelihat karakteristik secara lebih jelas
Characterize250 px/mMemperoleh detail untuk membedakan objek atau orang
Validate500 px/mMemastikan detail dengan tingkat keyakinan lebih tinggi
Scrutinize1.500 px/mMelakukan pemeriksaan visual yang sangat terperinci

Dalam praktiknya, banyak desain, datasheet, dan tender CCTV masih memakai istilah DORI berdasarkan IEC 62676-4 edisi 2014. Model tersebut menggunakan empat tingkat utama, yaitu detect, observe, recognize, dan identify.

Karena standar 2025 menggunakan klasifikasi yang berbeda, dokumen perencanaan perlu menyebutkan standar beserta versi yang dipakai. Istilah DORI lama sebaiknya tidak langsung dicampur dengan angka dari standar terbaru.

Petakan Semua Area pada Denah Gedung

Setelah tujuan pengawasan ditentukan, buat daftar kebutuhan kamera berdasarkan denah setiap lantai.

Setiap area sebaiknya dicatat dalam camera schedule. Dokumen ini dapat memuat lokasi kamera, tujuan pengawasan, objek sasaran, jarak terjauh, lebar area yang harus terlihat, kondisi pencahayaan, penghalang, jenis kamera, dan tingkat detail yang dibutuhkan.

Pada gedung komersial, area yang umumnya perlu diperiksa meliputi:

  • gerbang kendaraan dan jalur masuk parkir;
  • pintu utama, pintu samping, dan pintu servis;
  • pintu darurat;
  • lobi dan meja resepsionis;
  • lift dan lobi lift;
  • tangga serta akses antarlantai;
  • persimpangan koridor;
  • area kasir atau titik transaksi;
  • ruang server, ruang kontrol, dan ruang arsip;
  • gudang atau ruang penyimpanan bernilai tinggi;
  • loading dock dan area penerimaan barang;
  • area parkir;
  • perimeter gedung;
  • area khusus tenant atau area dengan akses terbatas.

Hindari aturan “satu ruangan satu kamera”. Ruangan kecil dengan satu pintu mungkin cukup diawasi oleh satu kamera, sedangkan lobi besar bisa membutuhkan kamera untuk melihat kondisi umum dan kamera lain yang diarahkan khusus ke pintu masuk.

Satu lokasi juga dapat memerlukan dua jenis pandangan. Kamera pertama merekam urutan kejadian secara umum, sedangkan kamera kedua menangkap detail wajah, transaksi, atau pelat kendaraan.

Hitung Cakupan Kamera Berdasarkan Field of View

Setelah area dan tingkat detail ditentukan, hitung lebar bidang pandang yang masih dapat memenuhi kebutuhan kepadatan piksel.

Rumus sederhananya adalah:

Lebar maksimum bidang pandang = jumlah piksel horizontal kamera ÷ kebutuhan piksel per meter

Sebagai contoh, kamera yang menghasilkan gambar selebar 2.688 piksel secara teoretis dapat mencakup:

  • bidang selebar sekitar 10,75 meter pada 250 px/m;
  • bidang selebar sekitar 21,5 meter pada 125 px/m;
  • bidang selebar sekitar 33,6 meter pada 80 px/m.

Artinya, kamera tersebut mungkin dapat memperlihatkan aktivitas umum di lobi selebar 30 meter. Namun, kamera yang sama belum tentu memberikan detail wajah yang cukup jika targetnya membutuhkan 250 px/m.

Solusinya tidak selalu mengganti kamera dengan resolusi lebih tinggi. Dalam banyak kasus, hasil yang lebih sesuai dapat diperoleh dengan mempersempit sudut pandang, memindahkan posisi kamera, memperpendek jarak ke objek, atau menambahkan kamera khusus pada titik penting.

Perhitungan tersebut juga hanya berlaku pada jarak sasaran yang telah ditentukan. Objek yang berada lebih jauh dari kamera akan menerima kepadatan piksel lebih rendah daripada objek yang berada dekat dengan kamera.

Tambahkan Kamera untuk Mengatasi Blind Spot dan Penghalang

Hasil perhitungan pada denah belum tentu menjadi jumlah akhir. Kondisi fisik gedung dapat mengurangi cakupan efektif kamera.

Kolom, partisi, pintu terbuka, rak tinggi, kendaraan besar, pohon, papan informasi, dan perubahan elevasi dapat menciptakan blind spot. Karena itu, cakupan kamera perlu diperiksa dalam kondisi operasional sebenarnya.

Pada perimeter gedung, NPSA merekomendasikan penggunaan kamera fixed dengan cakupan yang saling tersambung atau sedikit tumpang tindih. Pendekatan ini mengurangi kemungkinan seseorang berpindah dari satu area ke area lain tanpa terekam.

Koridor panjang juga perlu ditangani secara khusus. Kamera dengan corridor format dapat memutar orientasi gambar agar lebih banyak piksel digunakan untuk merekam arah perjalanan, bukan dinding di sisi kiri dan kanan.

Sementara itu, kamera PTZ tidak ideal jika digunakan untuk menggantikan beberapa kamera fixed. PTZ hanya merekam arah yang sedang dituju pada saat tertentu. Ketika kamera melakukan zoom atau menghadap ke satu sisi, kejadian di arah lain bisa tidak terekam.

PTZ lebih tepat digunakan sebagai kamera tambahan untuk mengikuti objek atau memeriksa detail. Kamera fixed tetap diperlukan untuk menjaga pengawasan terus-menerus pada area utama.

Perhitungkan Kondisi Pencahayaan Terburuk

Desain CCTV tidak boleh hanya dinilai dari hasil gambar pada siang hari.

Pintu kaca dapat menghasilkan cahaya latar yang membuat wajah terlihat gelap. Lampu kendaraan bisa menutupi pelat, sedangkan pantulan inframerah dari dinding atau permukaan mengilap dapat menurunkan kualitas rekaman malam hari.

Kamera yang dipasang terlalu tinggi mungkin memperlihatkan bagian atas kepala dengan jelas, tetapi gagal menangkap sudut wajah yang berguna. Kecepatan rana yang terlalu lambat juga dapat membuat wajah dan pelat kendaraan terlihat kabur ketika objek bergerak.

Resolusi 4K atau 8K tidak otomatis menyelesaikan masalah tersebut. Resolusi tinggi menghasilkan lebih banyak piksel, tetapi objek tetap dapat terlihat kecil, gelap, kabur, atau tertutup jika posisi kamera, lensa, pencahayaan, dan pengaturan rekamannya tidak sesuai.

Karena itu, jumlah kamera terkadang perlu ditambah agar jaraknya ke objek lebih pendek dan bidang pandangnya lebih terarah.

Bedakan Jumlah Perangkat, Sensor, dan Channel

Istilah “jumlah kamera” dapat menimbulkan perbedaan penafsiran ketika sistem menggunakan kamera panoramic atau multisensor.

Satu perangkat multisensor dapat memiliki dua, empat, atau lebih sensor yang menghadap ke arah berbeda. Secara fisik, perangkat tersebut terlihat seperti satu kamera, tetapi menghasilkan beberapa video stream.

Dokumen desain dan penawaran vendor sebaiknya membedakan:

  • jumlah perangkat atau housing kamera;
  • jumlah sensor;
  • jumlah video stream;
  • jumlah channel recorder;
  • jumlah lisensi VMS;
  • jumlah port jaringan dan PoE yang digunakan.

Kamera panoramic atau 360 derajat dapat mengurangi jumlah perangkat fisik di lobi, aula, dan area terbuka. Namun, kamera tersebut tidak selalu dapat menggantikan kamera khusus di pintu, kasir, gerbang kendaraan, atau titik yang membutuhkan detail tinggi.

Dengan kata lain, satu kamera panoramic dapat memberikan pandangan umum yang luas, tetapi kebutuhan visual pada titik tertentu tetap harus dihitung secara terpisah.

Uji Jumlah Kamera terhadap Kapasitas Infrastruktur

Setiap kamera menambah kebutuhan jaringan, daya, penyimpanan, dan kapasitas recorder.

Sebelum jumlah kamera disetujui, pastikan sistem memiliki kapasitas yang memadai untuk:

  • port PoE;
  • total daya PoE;
  • bandwidth jaringan;
  • uplink antarswitch;
  • channel NVR atau VMS;
  • kapasitas penyimpanan;
  • UPS dan daya cadangan;
  • lisensi perangkat lunak;
  • rencana penambahan kamera.

Kebutuhan penyimpanan terutama dipengaruhi oleh bitrate aktual, durasi rekaman, jumlah kamera, metode perekaman, dan masa retensi.

Sebagai ilustrasi, 16 kamera dengan bitrate rata-rata 2 Mb/s yang merekam terus-menerus selama 30 hari dapat menghasilkan sekitar 10,37 TB data. Angka tersebut belum memasukkan overhead sistem, konfigurasi RAID, ruang kosong yang dibutuhkan, serta perubahan bitrate akibat tingkat aktivitas dalam gambar.

Recorder dan switch sebaiknya tidak dibeli dengan kapasitas yang sama persis dengan jumlah kamera awal. Menyediakan ruang ekspansi akan mempermudah penambahan kamera ketika fungsi gedung, susunan tenant, atau kebutuhan keamanan berubah.

Contoh Perhitungan Awal Jumlah Kamera

Misalnya, sebuah gedung kantor memiliki:

  • dua gerbang kendaraan;
  • empat pintu akses luar;
  • satu lobi utama;
  • tiga persimpangan koridor;
  • dua lobi lift;
  • dua tangga darurat;
  • satu ruang server;
  • satu loading dock.

Setiap gerbang kendaraan membutuhkan satu kamera untuk pandangan umum dan satu kamera yang diarahkan untuk menangkap detail kendaraan atau pelat. Dua gerbang berarti membutuhkan empat pandangan kamera.

Empat pintu akses luar masing-masing membutuhkan satu pandangan, sehingga menambah empat kamera. Lobi utama membutuhkan satu kamera untuk pandangan umum, sedangkan tiga persimpangan koridor membutuhkan tiga kamera.

Dua lobi lift, dua tangga darurat, satu ruang server, dan satu loading dock menambah enam pandangan. Jumlah awalnya menjadi 18 pandangan kamera.

Angka tersebut belum tentu menjadi jumlah akhir. Area parkir, perimeter, blind spot, pencahayaan malam, lebar lobi, dan kebutuhan detail wajah dapat menambah jumlah kamera. Sebaliknya, penggunaan kamera multisensor mungkin mengurangi jumlah housing tanpa mengurangi jumlah stream.

Contoh ini menunjukkan bahwa jumlah kamera sebaiknya berasal dari penjumlahan kebutuhan setiap area, bukan dari luas gedung secara keseluruhan.

Lakukan Site Survey dan Pengujian Sebelum Serah Terima

Perhitungan dari denah harus dianggap sebagai desain awal sampai pemeriksaan lokasi dan pengujian selesai dilakukan.

Saat site survey, posisi kamera perlu diperiksa berdasarkan tinggi plafon, struktur bangunan, arah cahaya, jalur kabel, titik listrik, akses pemeliharaan, dan objek yang berpotensi menghalangi pandangan.

Setelah kamera terpasang, pengujian sebaiknya dilakukan pada titik terdekat, terjauh, dan sisi terluar gambar. Pemeriksaan juga perlu dilakukan pada siang hari, malam hari, saat area ramai, dan ketika pencahayaan gedung berubah.

Jangan hanya mengevaluasi tampilan langsung. Periksa juga hasil rekamannya karena kompresi, bitrate, dan pengaturan recorder dapat membuat kualitas playback berbeda dari live view.

Pengujian harus memastikan bahwa setiap kamera benar-benar memenuhi tujuan awal. Kamera yang dirancang untuk mengenali wajah, misalnya, perlu diuji menggunakan orang pada jarak dan posisi yang telah direncanakan.

Perhatikan Privasi dan Pengelolaan Rekaman

Penempatan CCTV di gedung komersial juga berkaitan dengan pemrosesan data visual.

UU No. 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mengatur bahwa pemrosesan data harus dilakukan secara terbatas, spesifik, sesuai tujuan, transparan, dan aman. Pengendali data juga perlu mengatur penyimpanan serta penghapusan data setelah masa retensinya berakhir.

Pengelola gedung perlu menyediakan informasi bahwa suatu area dipantau CCTV. Akses terhadap rekaman sebaiknya dibatasi kepada pihak yang berwenang dan dilengkapi prosedur untuk penyalinan, penyerahan, serta penghapusan data.

Dalam menentukan jumlah kamera, prinsip proporsionalitas tetap perlu diperhatikan. Kamera sebaiknya ditempatkan karena memiliki tujuan keamanan atau operasional yang jelas, bukan sekadar untuk merekam sebanyak mungkin area tanpa dasar kebutuhan.

Kesimpulan

Jumlah kamera CCTV untuk gedung komersial ditentukan dengan menghitung kebutuhan pandangan di setiap area, menetapkan tingkat detail yang diperlukan, memeriksa field of view, mengatasi blind spot, lalu menguji hasilnya di lokasi.

Luas gedung hanya menjadi informasi awal. Denah, jumlah akses, fungsi ruangan, kondisi pencahayaan, kepadatan piksel, kapasitas jaringan, kebutuhan penyimpanan, dan tujuan rekaman jauh lebih menentukan.

Untuk proyek yang melibatkan sistem CCTV, jaringan, kelistrikan, dan infrastruktur gedung lainnya, perencanaan sejak tahap awal dapat mencegah perubahan jalur kabel, kekurangan port, kapasitas recorder yang tidak mencukupi, serta penambahan perangkat setelah pekerjaan selesai. PT. Kumala Kencana Kreasindo menangani pekerjaan MEP dan infrastruktur gedung, mulai dari perencanaan, pemasangan, pengujian, hingga dukungan purna jual.

Referensi